NISPRAY (PENYEMPROT ORGANIK OTOMATIS) PENYEMPROT PESTISIDA EKSTRAK DAUN SIRIH (PIPER BETLE) BERBASIS IOT TERINTEGRASI UNTUK BUDIDAYA BAYAM AIR DAN BAYAM

 

1. Rayya Adizara Alsahima 

2.Felishya Abida Ezra Samudra

3. Nabilla Nur Maulidia

4. Laksita Syahrul Azkia

Abstract

Pest attacks on spinach (Amaranthus sp.) and water spinach (Ipomoea aquatica) are a major factor contributing to reduced productivity of leafy vegetables, often leading to economic losses and food supply disruption. The excessive use of chemical pesticides, while effective in the short term, causes long term negative impacts such as phytotoxicity, soil degradation, ecosystem imbalance, and harmful residues on edible plants. To address these challenges, this study develops an IoT based automatic sprayer prototype utilizing Piper betle fruit extract as an eco friendly biopesticide. The prototype integrates a sprayer, timer, motor servo, and water pump, all connected through an IoT system, enabling remote monitoring and control of spraying activities. The organic pesticide is produced through water based and organic solvent extraction, combining phytochemical compounds such as alkaloids, tannins, flavonoids, saponins, and essential oils, which act as neurotoxins, digestive inhibitors, repellents, and oviposicides against pests. The device was designed and tested using the R&D method with the Waterfall model, supported by field observations and literature studies. Results demonstrate that the system enhances efficiency, reduces pesticide waste, and improves pest control while maintaining plant health. Furthermore, implementation through a Pentahelix collaboration academics, business, community, government, and media ensures sustainability, adoption, and scalability of this innovation. This research highlights the potential of combining natural biopesticides with IoT based automation as a strategic solution to support sustainable and environmentally friendly agriculture.

 

Keyword: organic pesticide, piper betle, sprayer, spinach cultivation



PENDAHULUAN

Permasalahan hama pada tanaman bayam (Amaranthus sp.) dan kangkung (Ipomoea aquatica) menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan produktivitas pertanian sayuran daun ini. Selain kendala seperti lahan sempit, keterbatasan unsur hara tanah, serta rendahnya pengetahuan petani, serangan hama seringkali menjadi penyebab signifikan turunnya hasil panen (Krisdayanti , 2023). Hama yang umum menyerang kangkung antara lain ulat grayak (Spodoptera litura), kutu daun (Aphis gossypii), dan belalang (Valanga nigricornis) (Solikha & Wardiny, 2025). sedangkan pada bayam sering ditemukan serangan ulat penggerek daun (Spoladea recurvalis) dan kutu kebul (Bemisia tabaci) (Ath Thooriq & Sujatmika, 2023). Menurut data dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran, serangan ulat grayak dapat menurunkan hasil panen kangkung hingga 40% jika tidak dikendalikan dengan tepat (DKPP Kabupaten Ngawi, 2022). Dampak kerugian ini cukup besar, mengingat bayam dan kangkung termasuk sayuran berdaun yang memiliki nilai ekonomis tinggi serta permintaan pasar yang terus meningkat. Badan Pangan Nasional pada tahun 2022 mencatat konsumsi sayuran daun di Indonesia berada pada 237,5 gram/kapita/hari (Badan Pangan Nasional, 2023). Penurunan produktivitas akibat hama bukan hanya merugikan petani dari sisi pendapatan, tetapi juga mengganggu pasokan pangan masyarakat, sehingga masalah pengendalian hama pada kedua komoditas ini perlu mendapatkan perhatian serius dalam pengembangan teknologi pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan..

Penggunaan pestisida kimia dalam pengendalian hama memang memberikan hasil efektif dalam jangka pendek, tetapi dampak jangka panjangnya dapat merugikan tanaman, lingkungan, bahkan manusia (Zhou, Li, & Achal, 2024). Salah satu dampak yang paling umum adalah fitotoksisitas, yakni keracunan tanaman akibat kesalahan dosis maupun cara aplikasi pestisida. Gejala yang muncul meliputi daun menguning, terbakar, menggulung, hingga rontok, yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan dan menurunkan produktivitas (Ahmad, 2024). Selain itu, residu pestisida yang tertinggal pada bagian tanaman konsumsi dapat menurunkan kualitas hasil panen, baik dari rasa, nilai gizi, maupun daya simpan. Menurut laporan Food and Agriculture Organization, residu pestisida pada sayuran daun dapat melebihi ambang batas aman jika penggunaan tidak terkendali, sehingga berpotensi membahayakan konsumen (Kumah, 2025). Dampak jangka panjang penggunaan pestisida kimia tidak hanya berupa penurunan kesuburan tanah, tetapi juga terancamnya keberlangsungan ekosistem pertanian yang sehat ( Astuti & Widyastuti, 2016). Oleh karena itu, penggunaan pestisida kimia perlu dikendalikan dan secara bertahap digantikan oleh alternatif ramah lingkungan, seperti pestisida nabati atau teknologi berbasis IoT, agar keberlanjutan pertanian tetap terjaga dan aman bagi konsumen.

Buah sirih (Piper betle), meskipun kurang populer dibandingkan daunnya, memiliki potensi besar sebagai bahan alami dalam pengendalian hama pada tanaman sayuran seperti kangkung dan bayam. Secara morfologi, buah sirih berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi kuning hingga oranye ketika matang, dengan tekstur kulit yang agak keras. Secara kimiawi, buah sirih mengandung senyawa aktif seperti fenol, tanin, dan flavonoid, meskipun kadarnya lebih rendah dibandingkan daunnya (Hamka, 2021). Senyawa-senyawa tersebut terbukti memiliki sifat antimikroba, antifungi, dan insektisida alami yang dapat menghambat pertumbuhan maupun aktivitas hama tanaman. Pestisida ekstrak buah sirih dengan konsentrasi 0,8%, efektif membunuh 82,5% larva Spodoptera frugiperda (ulat grayak) dengan waktu kematian awal 2,5 jam dan LT50 selama 31 jam (Rustam, Putra, & Yudha, 2023). Pemanfaatan ekstrak buah sirih sebagai pestisida alami dapat menjadi inovasi strategis dalam pertanian berkelanjutan di Indonesia.

Otomatisasi dalam bidang pertanian kini menjadi salah satu inovasi penting untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas, termasuk dalam aspek pengendalian hama melalui penyemprotan pestisida alami. Pada praktik konvensional, petani masih banyak menggunakan cara manual untuk menyemprot tanaman, yang membutuhkan waktu lama, tenaga besar, dan sering kali tidak merata dalam distribusi cairan. Penggunaan sistem otomatis berbasis teknologi, seperti IoT (Internet of Things), sensor, dan pompa otomatis, memungkinkan penyemprotan pestisida alami dilakukan secara lebih presisi sesuai kebutuhan tanaman. Misalnya, penyemprot otomatis dapat diatur agar hanya mengeluarkan cairan pada area yang terdeteksi adanya hama, sehingga mengurangi pemborosan bahan pestisida. Penerapan otomatisasi juga terbukti dapat menurunkan penggunaan cairan pestisida hingga 30% serta meningkatkan keamanan kerja petani (Bazargani & Deemyad, 2024). Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pangan sehat bebas residu kimia, otomatisasi penyemprotan pestisida alami dapat menjadi solusi strategis untuk mendukung pertanian berkelanjutan.

 

METODE PENELITIAN

Jenis dan Pendekatan Penelitian

Metode R&D adalah metode research yang digunakan dalam menghasilkan produk, dan menguji keefektivan produk (Sugiyono, 2021). Peneliti menggunakan metode ini karena bertujuan untuk mengembangkan sebuah produk inovatif berupa alat penyemprot pestisida berbasis IoT, dengan Ekstrak buah sirih sebagai pengendali hama alami pada kangkung dan bayam. Pengembangan perangkat ini dilakukan dengan menerapkan pendekatan model Waterfall, yaitu dengan model yang bersifat systematis juga berurutan dalam membangun perangkat lunak. Dengan hal tersebut penulis dapat melakukan tindakan perawatan alat rutin dengan cek sensor, sistem IoT, dan bersihkan nozzle dari sisa ekstrak sirih supaya alat tetap optimal. Penelitian ini menghasilkan alat penyemprot teknologi yang mendukung pertanian ramah lingkungan lewat bahan alami dan IoT untuk pertanian modern yang efisien dan berkelanjutan (Rahmadhani & Supriadi, 2022).

 

Teknik Pengumpulan Data

Observasi merupakan metode pengumpulan data melalui pengamatan langsung. Observasi lapangan secara langsung dilakukan oleh peneliti guna memantau dinamika pertumbuhan tanaman menggunakan sensor-sensor seperti sensor kelembapan tanah, yang meliputi parameter morfologis seperti tinggi batang, jumlah dan warna daun, serta keberadaan organisme pengganggu tanaman sebelum dan sesudah aplikasi pestisida alami. Selain itu, frekuensi serta waktu penyemprotan dicatat secara manual, bersamaan dengan pengamatan terhadap perubahan kondisi lingkungan mikro, termasuk suhu dan kelembapan udara.

Studi pustaka merupakan sebuah proses mencari, membaca, memahami, dan menganalisis berbagai literatur, hasil kajian atau studi yang berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan. Literatur yang dianalisis meliputi jurnal ilmiah, prosiding, tesis, dan artikel terkait pestisida nabati berbasis ekstrak Piper betle, pengendalian hama pada tanaman kangkung dan bayam, serta aplikasi teknologi Internet of Things (IoT) dalam sistem penyemprotan otomatis. Hasil kajian dianalisis untuk mengevaluasi efektivitas ekstrak sirih sebagai pestisida, mengidentifikasi tantangan dalam budidaya hortikultura sayuran daun, serta menilai potensi integrasi IoT dalam meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan sistem penyemprotan pestisida alami.

 

Teknik Analisis Data

Analisis deskriptif digunakan untuk menginterpretasikan terkait kinerja alat penyemprot pestisida berbasis IoT, seperti volume semprotan, waktu respons, serta efektivitas ekstrak Piper betle terhadap hama. Data disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan narasi guna memberikan gambaran fungsionalitas dan efisiensi sistem secara menyeluruh. Pada analisis data miles dan Huberman data dilakukan berdasarkan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup tiga tahapan utama, yaitu:

·     Reduksi data

Proses ini dilakukan dengan memilah, merangkum, dan menyederhanakan data mentah yang diperoleh dari observasi, dokumentasi, serta hasil pengujian alat. Fokus utama adalah pada data yang berkaitan dengan efektivitas ekstrak Piper betle, respons alat berbasis IoT, dan dampaknya terhadap pertumbuhan serta ketahanan tanaman terhadap hama.

·     Penyajian data

Data yang telah direduksi kemudian disajikan dalam bentuk visual seperti tabel, bagan, dan diagram agar mempermudah penarikan kesimpulan. Penyajian ini juga mencakup tampilan alur kerja sistem IoT, hasil respon sensor, dan perbandingan kondisi tanaman sebelum dan sesudah penyemprotan.

·     Penarikan kesimpulan

Langkah terakhir adalah menarik kesimpulan berdasarkan pola, hubungan, dan kecenderungan yang muncul dari data yang telah disajikan. Kesimpulan kemudian diverifikasi secara berkelanjutan untuk memastikan validitas dan konsistensinya terhadap tujuan penelitian, yaitu menguji kelayakan dan efektivitas alat penyemprot pestisida alami berbasis teknologi.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Desain Prototipe

Gambar 1. Desain dan Alat Prototipe NICRASIN.

Inovasi Penyemprot Pestisida Ekstrak Buah Sirih (Piper betle) berbasis IoT pada perkebunan kangkung dan bayam dirancang untuk meningkatkan efisiensi serta efektivitas dalam pengendalian hama secara alami. Berikut penjelasan fungsi dari setiap alat yang digunakan dalam sistem ini:

1.  Sprayer (Alat Penyemprot)

Sebagai alat utama untuk menyemprotkan cairan pestisida alami ke permukaan tanaman secara merata. Terintegrasi dengan sistem otomatis sehingga penyemprotan dapat dilakukan tanpa intervensi manual. Dapat dikendalikan berdasarkan waktu atau sensor (otomatisasi berbasis IoT).

2.  Timer

Mengatur waktu penyemprotan pestisida secara otomatis (misalnya setiap pagi dan sore). Memastikan penyemprotan dilakukan secara konsisten dan efisien sesuai kebutuhan tanaman. Dapat diprogram sesuai jadwal optimal pertumbuhan dan cuaca.

3.  Motor Servo

Menggerakkan arah nozzle sprayer agar penyemprotan mencakup area tanaman yang lebih luas. Dapat diarahkan horizontal atau vertikal secara otomatis untuk menjangkau seluruh permukaan tanaman. Berperan penting dalam menyesuaikan posisi penyemprotan agar tidak terlalu fokus di satu titik (menghindari pemborosan).

4.  Pompa Air

Memompa cairan pestisida alami dari wadah menuju sprayer. Menyediakan tekanan yang cukup agar cairan dapat disemprotkan secara merata dan menyeluruh. Bekerja secara otomatis saat sistem penyemprotan diaktifkan melalui IoT.

Semua komponen ini diintegrasikan melalui sistem berbasis IoT, yang memungkinkan pengguna untuk mengontrol dan memantau penyemprotan secara jarak jauh melalui aplikasi atau perangkat digital, menyesuaikan jadwal penyemprotan dengan kondisi lingkungan, serta memastikan efisiensi penggunaan pestisida alami yang ramah lingkungan. Inovasi ini diharapkan dapat membantu petani mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia, meningkatkan hasil panen, serta menjaga keberlanjutan ekosistem pertanian.

Gambar 2. Mekanisme Kerja NICRASIN.

 

Cara kerja alat Penyemprot Pestisida Ekstrak Buah Sirih (Piper betle) pada perkebunan kangkung dan bayam berbasis IoT dimulai dari sistem kontrol yang terhubung dengan perangkat timer dan motor servo. Timer berfungsi mengaktifkan sistem penyemprotan secara otomatis sesuai jadwal yang telah ditetapkan, yaitu dua kali dalam seminggu. Ketika timer aktif, pompa air akan menyala dan memompa ekstrak buah sirih dari wadah penyimpanan ke sprayer. Selanjutnya, motor servo akan mengatur arah nozzle sprayer secara otomatis agar penyemprotan dapat merata ke seluruh tanaman kangkung dan bayam. Sprayer kemudian menyemprotkan cairan pestisida alami dengan tekanan yang memadai untuk melindungi tanaman dari hama secara efektif. Seluruh proses ini dapat dipantau dan dikendalikan secara jarak jauh melalui aplikasi berbasis IoT, memungkinkan petani untuk mengelola penyemprotan dengan lebih efisien dan responsif.

 

Metode Pembuatan Pestisida Organik

1.  Ekstraksi Buah Sirih

  

Buah sirih diblender halus, lalu direbus dalam 500 ml air selama 15–20 menit. Setelah itu, rebusan didinginkan, disaring, dan cairan yang dihasilkan disimpan sebagai Ekstrak A.

2.  Ekstraksi Pelarut Organik

Ampas hasil ekstraksi, direndam dalam 250 ml cuka apel 5 % selama 3–5 hari.

3.  Kombinasi Ekstrak & Fermentasi Opsional



Kedua ekstrak kemudian dicampur: 300 ml Ekstrak A  dan 100 ml Ekstrak B.

4.  Aplikasi & Dosis

Larutan konsentrat diencerkan dengan rasio 1:5 (1 bagian ekstrak : 5 bagian air) untuk tanaman. Penyemprotan dilakukan 2–3 kali per minggu, idealnya pada pagi atau sore hari.

5.  Penyimpanan
Ekstrak A dapat disimpan dalam jangka waktu 2–3 bulan, sedangkan ekstrak B 1 bulan.

 

Mekanisme Kimia Ekstrak Buah Sirih Mengatasi Hama

Ekstrak buah sirih mengandung beragam senyawa fitokimia yang mampu bekerja secara kimia untuk membunuh atau menghambat hama. Mekanisme utama senyawa ini melibatkan gangguan pada sistem saraf, pencernaan, hingga metabolisme sel serangga. Senyawa alkaloid dan tanin, dapat menghambat metabolisme sel serta mengacaukan fungsi saraf sehingga serangga mengalami kelumpuhan dan akhirnya mati. Tannin juga bertindak sebagai racun kontak yang langsung merusak fisiologi hama (Wahyuni & Nugrahani, 2021). Senyawa flavonoid dan saponin merusak membran sel serta sistem pencernaan, menyebabkan hama kehilangan kemampuan makan hingga mati kelaparan. Senyawa minyak atsiri seperti eugenol dan kavikol mampu menembus kutikula serangga, mengganggu sistem pernapasan serta saraf, sehingga tubuh hama menjadi kaku, energinya menurun drastis, dan berujung pada kematian (Buulolo, 2023). Efek dari aplikasi ekstrak sirih dapat terlihat pada larva maupun serangga dewasa, yang menunjukkan perubahan perilaku seperti menghindari makanan, perubahan warna tubuh, kelumpuhan, hingga kematian dalam kurun waktu relatif singkat, yakni 1–24 jam setelah perlakuan (Syahputra & Ginting, 2024). Ekstrak sirih juga berperan sebagai repelen yang menolak kehadiran hama serta sebagai oviposida yang mampu menghambat penetasan telur serangga (Saraswati, Herdiannanta, & Soesilohadi, 2021). Dengan demikian, ekstrak sirih bekerja melalui mekanisme ganda, baik membunuh maupun mencegah siklus reproduksi hama, sehingga potensial digunakan sebagai pestisida nabati yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

 

Implementasi Pentahelix Inovasi Nispray

Implementasi Pentahelix digunakan untuk menciptakan sinergi antar stakeholder agar inovasi pertanian dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan. Indikator yang dilihat dalam analisis penta helix yakni pelibatan lima aktor atau yang sering dikenal dengan istilah ABCGM (Academic, Business, Community, Government, Media) (Rizqy, Anthera, & Elfian, 2023). Akademisi melakukan riset, uji coba, dan validasi teknologi; pelaku bisnis bertugas memproduksi, memasarkan, serta menyediakan layanan pendukung; masyarakat khususnya petani menjadi pengguna sekaligus pemberi umpan balik; pemerintah menyediakan regulasi, insentif, dan pengawasan; sementara media menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran publik. Kolaborasi kelima aktor ini sangat penting untuk memastikan teknologi dapat diterapkan secara efektif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi pertaniasn ramah lingkungan (Septadiani & Pribad, 2022).

 

KESIMPULAN

Inovasi Penyemprot Pestisida Ekstrak Buah Sirih (Piper betle) berbasis IoT pada perkebunan kangkung dan bayam dirancang untuk meningkatkan efisiensi pengendalian hama secara alami melalui integrasi sprayer otomatis, timer, motor servo, dan pompa air yang dapat dipantau jarak jauh. Pestisida dibuat melalui proses ekstraksi buah sirih dan pelarut organik, menghasilkan senyawa fitokimia seperti alkaloid, tanin, flavonoid, saponin, serta minyak atsiri yang efektif melumpuhkan saraf, merusak sistem pencernaan, hingga mengganggu metabolisme hama, sekaligus berperan sebagai repelen dan oviposida. Penggunaan pestisida nabati ini tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga berkelanjutan, mendukung pertanian bebas pestisida kimia. Implementasi inovasi ini diperkuat dengan pendekatan Pentahelix yang melibatkan akademisi, bisnis, masyarakat, pemerintah, dan media, sehingga teknologi dapat diadopsi secara luas, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi ketahanan pangan serta ekosistem pertanian.

 

REFERENSI

 

Astuti, W., & Widyastuti, C. R. (2016). PESTISIDA ORGANIK RAMAH LINGKUNGAN PEMBASMI HAMA TANAMAN SAYUR. Rekayasa, 115-120.

Ahmad, M. (2024). Pesticides impacts on human health and the environment with their mechanisms of action and possible countermeasures. Heliyon, Vol 10, DOI: https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e29128.

Ath Thooriq, M., & Sujatmika, A. (2023). Rancang Bangun Alat Penyiraman Dan Pembasmi Hama Otomatis Pada Tanaman Bayam Dengan Monitoring Berbasis Website. Jurnal Sains Dan Teknologi (JSIT), 178.

Badan Pangan Nasional. (2023, September 14). NFA Ajak Generasi Muda untuk Konsumsi Sayur dan Buah. Retrieved from badanpangan.go.id: http://badanpangan.go.id/blog/post/nfa-ajak-generasi-muda-untuk-konsumsi-sayur-dan-buah

Bazargani, K., & Deemyad, T. (2024). Automation’s Impact on Agriculture: Opportunities, Challenges, and Economic Effects. Robotics, , Vol 13(2), 33. DOI: https://doi.org/10.3390/robotics13020033.

Buulolo, D. (2023). PENGARUH EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle L) TERHADAP MORTALITAS WALANG SANGIT. TUNAS : Jurnal Pendidikan Biologi, Vol 4(1), 50 - 60. DOI: https://doi.org/10.57094/tunas.v4i1.865.

DKPP Kabupaten Ngawi. (2022, November 28). Ulat Grayak pada Tanaman Jagung. Retrieved from pertanian.ngawikab.go.id: https://pertanian.ngawikab.go.id/tag/ulat-grayak/

Hamka, A. (2021). Antibacterial activity of betel (Piper betle L.) fruit against Pseudomonas aeruginosa. Acta Biochimica Indonesiana, DOI: https://doi.org/10.32889/actabioina.10.

infamid. (2024). jangan dibuang!! pestida alami dari kunyit . surabaya, jawa timur , indonesia .

Krisdayanti , M. (2023). PEMANFAATAN CANGKANG TELUR SEBAGAI PUPUK ORGANIK PADA TANAMAN KANGKUNG DARAT DIDESA NANOWA. Jurnal Sapta Agrica, 13.

Kumah, J. (2025). The Impact of High Urban Temperatures on Pesticide Residues Accumulation in Vegetables Grown in the Greater Accra Metropolitan Area of Ghana. Journal of Xenobiotics, Vol 15(4), pp; 103. DOI: https://doi.org/10.3390/jox15040103.

Rahmadhani, S., & Supriadi. (2022). Pengembangan Buku Elektronik (E-Book) sebagai Media Pembelajaran Ekstrakurikuler Wajib Pramuka. Indonesian Journal of Learning and Technological Innovation, 88-89.

Rizqy, F., Anthera, D., & Elfian, I. (2023). Implementasi Model Penta Helix dalam Perencanaan Program CSR Peningkatan Hasil Tangkap Ikan Berbasis Teknologi. Jurnal Ilmu Administrasi Publik.

Rustam, R., Putra, A., & Yudha, P. (2023). Effectivity of organic extract of forest betel fruit (Piper aduncum L.) of Riau to fall armyworm (Spodoptera frugiperda JE Smith) in laboratory. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, doi:10.1088/1755-1315/1160/1/012038.

Saraswati, F., Herdiannanta, A., & Soesilohadi, R. (2021). Efficacy of Red Betel Leaf’s (Piper crocatum) Chloroform Extract as Repellent Against Rice Bugs Leptocorisa acuta Thunberg, 1783 (Hemiptera: Alydidae). IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, (pp. DOI 10.1088/1755-1315/715/1/012027).

Septadiani, W., & Pribad, I. (2022). PERAN MODEL PENTAHELIX DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KAWASAN EKONOMI KHUSUS MANDALIKA. Prosiding Seminar Intelektual Muda.

Solikha, M., & Wardiny, T. (2025). Applying Noni Leaf Extract to Spinach Plants as An Armyworm Control Method. Proceeding International Seminar of Science and Technology (pp. Vol 4, DOI: https://doi.org/10.33830/isst.v4i1.5237). Tangerang: Universitas Terbuka.

Sugiyono. (2021). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Syahputra, B., & Ginting, T. (2024). The Effect of Soursop and Betel Leaf Extracts as Organic Pesticides in Pest Control of Spodoptera exigua (Lepidoptera: Noctuidiae) on Onion (Alium ascalonicum L.) Cultivation. Jurnal Pembelajaran Dan Biologi Nukleus, Vol 10 (1): 254-265, DOI: https://doi.org/10.36987/jpbn.v10i1.5393.

Wahyuni, E., & Nugrahani, R. (2021). Potensi Eksudat Daun Sirih Merah (Piper ornatum L.) sebagai Insektisida Herbal terhadap Mortalitas Semut Hitam. Hydrogen: Jurnal Kependidikan Kimia, Vol. 8 , No. 2, DOI: https://doi.org/10.33394/hjkk.v9i2.4409.

Zhou, W., Li, M., & Achal, V. (2024). A comprehensive review on environmental and human health impacts of chemical pesticide usage. Emerging Contaminants, Volume 11, Issue 1, DOI: https://doi.org/10.1016/j.emcon.2024.100410.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengembangan dan Karakterisasi Bata Komposit Berbasis Limbah Bambu dan Serbuk Vulkanik untuk Konstruksi Bangunan Berkelanjutan

LAPINDORIS (LAPINDO TOURISM) PENGEMBANGAN WISATA DARK TOURISM BERBASIS DIGITAL UNTUK MENINGKATKAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT TERDAMPAK LUMPUR LAPINDO DI SIDOARJO