NISPRAY (PENYEMPROT ORGANIK OTOMATIS) PENYEMPROT PESTISIDA EKSTRAK DAUN SIRIH (PIPER BETLE) BERBASIS IOT TERINTEGRASI UNTUK BUDIDAYA BAYAM AIR DAN BAYAM
1.
Rayya Adizara Alsahima
2.Felishya
Abida Ezra Samudra
3.
Nabilla Nur Maulidia
4. Laksita
Syahrul Azkia
Abstract
Pest
attacks on spinach (Amaranthus sp.) and water spinach (Ipomoea aquatica) are a
major factor contributing to reduced productivity of leafy vegetables, often
leading to economic losses and food supply disruption. The excessive use of
chemical pesticides, while effective in the short term, causes long term
negative impacts such as phytotoxicity, soil degradation, ecosystem imbalance,
and harmful residues on edible plants. To address these challenges, this study
develops an IoT based automatic sprayer prototype utilizing Piper betle fruit
extract as an eco friendly biopesticide. The prototype integrates a sprayer,
timer, motor servo, and water pump, all connected through an IoT system,
enabling remote monitoring and control of spraying activities. The organic
pesticide is produced through water based and organic solvent extraction,
combining phytochemical compounds such as alkaloids, tannins, flavonoids,
saponins, and essential oils, which act as neurotoxins, digestive inhibitors,
repellents, and oviposicides against pests. The device was designed and tested
using the R&D method with the Waterfall model, supported by field
observations and literature studies. Results demonstrate that the system
enhances efficiency, reduces pesticide waste, and improves pest control while
maintaining plant health. Furthermore, implementation through a Pentahelix
collaboration academics, business, community, government, and media ensures
sustainability, adoption, and scalability of this innovation. This research
highlights the potential of combining natural biopesticides with IoT based
automation as a strategic solution to support sustainable and environmentally
friendly agriculture.
Keyword: organic pesticide, piper
betle, sprayer, spinach cultivation
PENDAHULUAN
Permasalahan
hama pada tanaman bayam (Amaranthus sp.) dan kangkung (Ipomoea aquatica)
menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan produktivitas
pertanian sayuran daun ini. Selain kendala seperti lahan sempit, keterbatasan
unsur hara tanah, serta rendahnya pengetahuan petani, serangan hama seringkali
menjadi penyebab signifikan turunnya hasil panen (Krisdayanti , 2023).
Hama yang umum menyerang kangkung antara lain ulat grayak (Spodoptera litura),
kutu daun (Aphis gossypii), dan belalang (Valanga nigricornis) (Solikha
& Wardiny, 2025). sedangkan pada bayam sering ditemukan serangan ulat
penggerek daun (Spoladea recurvalis) dan kutu kebul (Bemisia tabaci) (Ath
Thooriq & Sujatmika, 2023). Menurut data dari Balai Penelitian Tanaman
Sayuran, serangan ulat grayak dapat menurunkan hasil panen kangkung hingga 40%
jika tidak dikendalikan dengan tepat (DKPP Kabupaten Ngawi, 2022). Dampak
kerugian ini cukup besar, mengingat bayam dan kangkung termasuk sayuran berdaun
yang memiliki nilai ekonomis tinggi serta permintaan pasar yang terus
meningkat. Badan Pangan Nasional pada tahun 2022 mencatat konsumsi sayuran daun
di Indonesia berada pada 237,5 gram/kapita/hari (Badan Pangan Nasional,
2023). Penurunan produktivitas akibat hama bukan hanya merugikan petani dari
sisi pendapatan, tetapi juga mengganggu pasokan pangan masyarakat, sehingga
masalah pengendalian hama pada kedua komoditas ini perlu mendapatkan perhatian
serius dalam pengembangan teknologi pertanian yang ramah lingkungan dan
berkelanjutan..
Penggunaan
pestisida kimia dalam pengendalian hama memang memberikan hasil efektif dalam
jangka pendek, tetapi dampak jangka panjangnya dapat merugikan tanaman,
lingkungan, bahkan manusia (Zhou, Li, & Achal, 2024). Salah satu
dampak yang paling umum adalah fitotoksisitas, yakni keracunan tanaman akibat
kesalahan dosis maupun cara aplikasi pestisida. Gejala yang muncul meliputi
daun menguning, terbakar, menggulung, hingga rontok, yang pada akhirnya
menghambat pertumbuhan dan menurunkan produktivitas (Ahmad, 2024). Selain
itu, residu pestisida yang tertinggal pada bagian tanaman konsumsi dapat
menurunkan kualitas hasil panen, baik dari rasa, nilai gizi, maupun daya
simpan. Menurut laporan Food and Agriculture Organization, residu pestisida
pada sayuran daun dapat melebihi ambang batas aman jika penggunaan tidak
terkendali, sehingga berpotensi membahayakan konsumen (Kumah, 2025).
Dampak jangka panjang penggunaan pestisida kimia tidak hanya berupa penurunan
kesuburan tanah, tetapi juga terancamnya keberlangsungan ekosistem pertanian
yang sehat ( Astuti & Widyastuti, 2016). Oleh karena itu,
penggunaan pestisida kimia perlu dikendalikan dan secara bertahap digantikan
oleh alternatif ramah lingkungan, seperti pestisida nabati atau teknologi
berbasis IoT, agar keberlanjutan pertanian tetap terjaga dan aman bagi
konsumen.
Buah
sirih (Piper betle), meskipun kurang populer dibandingkan daunnya, memiliki
potensi besar sebagai bahan alami dalam pengendalian hama pada tanaman sayuran
seperti kangkung dan bayam. Secara morfologi, buah sirih berwarna hijau saat
muda dan berubah menjadi kuning hingga oranye ketika matang, dengan tekstur
kulit yang agak keras. Secara kimiawi, buah sirih mengandung senyawa aktif
seperti fenol, tanin, dan flavonoid, meskipun kadarnya lebih rendah
dibandingkan daunnya (Hamka, 2021). Senyawa-senyawa tersebut terbukti
memiliki sifat antimikroba, antifungi, dan insektisida alami yang dapat
menghambat pertumbuhan maupun aktivitas hama tanaman. Pestisida ekstrak buah
sirih dengan konsentrasi 0,8%, efektif membunuh 82,5% larva Spodoptera
frugiperda (ulat grayak) dengan waktu kematian awal 2,5 jam dan LT50 selama 31
jam (Rustam, Putra, & Yudha, 2023). Pemanfaatan ekstrak buah sirih
sebagai pestisida alami dapat menjadi inovasi strategis dalam pertanian
berkelanjutan di Indonesia.
Otomatisasi
dalam bidang pertanian kini menjadi salah satu inovasi penting untuk
meningkatkan efisiensi dan produktivitas, termasuk dalam aspek pengendalian
hama melalui penyemprotan pestisida alami. Pada praktik konvensional, petani
masih banyak menggunakan cara manual untuk menyemprot tanaman, yang membutuhkan
waktu lama, tenaga besar, dan sering kali tidak merata dalam distribusi cairan.
Penggunaan sistem otomatis berbasis teknologi, seperti IoT (Internet of
Things), sensor, dan pompa otomatis, memungkinkan penyemprotan pestisida alami
dilakukan secara lebih presisi sesuai kebutuhan tanaman. Misalnya, penyemprot
otomatis dapat diatur agar hanya mengeluarkan cairan pada area yang terdeteksi
adanya hama, sehingga mengurangi pemborosan bahan pestisida. Penerapan
otomatisasi juga terbukti dapat menurunkan penggunaan cairan pestisida hingga
30% serta meningkatkan keamanan kerja petani (Bazargani & Deemyad,
2024). Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pangan sehat bebas
residu kimia, otomatisasi penyemprotan pestisida alami dapat menjadi solusi
strategis untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
METODE
PENELITIAN
Jenis
dan Pendekatan Penelitian
Metode
R&D adalah metode research yang digunakan dalam menghasilkan produk, dan
menguji keefektivan produk (Sugiyono, 2021). Peneliti menggunakan metode
ini karena bertujuan untuk mengembangkan sebuah produk inovatif
berupa alat penyemprot pestisida berbasis IoT, dengan Ekstrak
buah sirih sebagai pengendali hama alami pada kangkung dan bayam. Pengembangan
perangkat ini dilakukan dengan menerapkan pendekatan model Waterfall, yaitu
dengan model yang bersifat systematis juga berurutan dalam membangun perangkat
lunak. Dengan hal tersebut penulis dapat melakukan tindakan perawatan alat
rutin dengan cek sensor, sistem IoT, dan bersihkan nozzle dari sisa ekstrak
sirih supaya alat tetap optimal. Penelitian ini menghasilkan alat penyemprot
teknologi yang mendukung pertanian ramah lingkungan lewat bahan alami dan IoT
untuk pertanian modern yang efisien dan berkelanjutan (Rahmadhani &
Supriadi, 2022).
Teknik
Pengumpulan Data
Observasi
merupakan metode pengumpulan data melalui pengamatan langsung. Observasi
lapangan secara langsung dilakukan oleh peneliti guna memantau dinamika
pertumbuhan tanaman menggunakan sensor-sensor seperti sensor kelembapan tanah,
yang meliputi parameter morfologis seperti tinggi batang, jumlah dan warna
daun, serta keberadaan organisme pengganggu tanaman sebelum dan sesudah
aplikasi pestisida alami. Selain itu, frekuensi serta waktu penyemprotan
dicatat secara manual, bersamaan dengan pengamatan terhadap perubahan kondisi
lingkungan mikro, termasuk suhu dan kelembapan udara.
Studi
pustaka merupakan sebuah proses mencari, membaca, memahami, dan menganalisis
berbagai literatur, hasil kajian atau studi yang berhubungan dengan penelitian
yang akan dilakukan. Literatur yang dianalisis meliputi jurnal ilmiah,
prosiding, tesis, dan artikel terkait pestisida nabati berbasis ekstrak Piper
betle, pengendalian hama pada tanaman kangkung dan bayam, serta aplikasi
teknologi Internet of Things (IoT) dalam sistem penyemprotan otomatis. Hasil
kajian dianalisis untuk mengevaluasi efektivitas ekstrak sirih sebagai
pestisida, mengidentifikasi tantangan dalam budidaya hortikultura sayuran daun,
serta menilai potensi integrasi IoT dalam meningkatkan efisiensi dan
keberlanjutan sistem penyemprotan pestisida alami.
Teknik
Analisis Data
Analisis
deskriptif digunakan untuk menginterpretasikan terkait kinerja alat penyemprot
pestisida berbasis IoT, seperti volume semprotan, waktu respons, serta
efektivitas ekstrak Piper betle terhadap hama. Data disajikan
dalam bentuk tabel, grafik, dan narasi guna memberikan gambaran fungsionalitas
dan efisiensi sistem secara menyeluruh. Pada analisis data miles dan Huberman
data dilakukan berdasarkan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup
tiga tahapan utama, yaitu:
· Reduksi
data
Proses
ini dilakukan dengan memilah, merangkum, dan menyederhanakan data mentah yang
diperoleh dari observasi, dokumentasi, serta hasil pengujian alat. Fokus utama
adalah pada data yang berkaitan dengan efektivitas ekstrak Piper betle,
respons alat berbasis IoT, dan dampaknya terhadap pertumbuhan serta ketahanan
tanaman terhadap hama.
· Penyajian
data
Data
yang telah direduksi kemudian disajikan dalam bentuk visual seperti tabel,
bagan, dan diagram agar mempermudah penarikan kesimpulan. Penyajian ini juga
mencakup tampilan alur kerja sistem IoT, hasil respon sensor, dan perbandingan
kondisi tanaman sebelum dan sesudah penyemprotan.
· Penarikan
kesimpulan
Langkah
terakhir adalah menarik kesimpulan berdasarkan pola, hubungan, dan
kecenderungan yang muncul dari data yang telah disajikan. Kesimpulan kemudian
diverifikasi secara berkelanjutan untuk memastikan validitas dan konsistensinya
terhadap tujuan penelitian, yaitu menguji kelayakan dan efektivitas alat
penyemprot pestisida alami berbasis teknologi.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Desain
Prototipe
Gambar
1. Desain dan Alat Prototipe NICRASIN.
Inovasi
Penyemprot Pestisida Ekstrak Buah Sirih (Piper betle) berbasis IoT pada
perkebunan kangkung dan bayam dirancang untuk meningkatkan efisiensi serta
efektivitas dalam pengendalian hama secara alami. Berikut penjelasan fungsi
dari setiap alat yang digunakan dalam sistem ini:
1. Sprayer (Alat Penyemprot)
Sebagai
alat utama untuk menyemprotkan cairan pestisida alami ke permukaan tanaman
secara merata. Terintegrasi dengan sistem otomatis sehingga penyemprotan dapat
dilakukan tanpa intervensi manual. Dapat dikendalikan berdasarkan waktu
atau sensor (otomatisasi berbasis IoT).
2. Timer
Mengatur
waktu penyemprotan pestisida secara otomatis (misalnya setiap pagi dan sore).
Memastikan penyemprotan dilakukan secara konsisten dan efisien sesuai kebutuhan
tanaman. Dapat diprogram sesuai jadwal optimal pertumbuhan dan cuaca.
3. Motor Servo
Menggerakkan
arah nozzle sprayer agar penyemprotan mencakup area tanaman yang lebih luas.
Dapat diarahkan horizontal atau vertikal secara otomatis untuk menjangkau
seluruh permukaan tanaman. Berperan penting dalam menyesuaikan posisi
penyemprotan agar tidak terlalu fokus di satu titik (menghindari pemborosan).
4. Pompa Air
Memompa
cairan pestisida alami dari wadah menuju sprayer. Menyediakan tekanan yang
cukup agar cairan dapat disemprotkan secara merata dan menyeluruh. Bekerja
secara otomatis saat sistem penyemprotan diaktifkan melalui IoT.
Semua
komponen ini diintegrasikan melalui sistem berbasis IoT, yang memungkinkan
pengguna untuk mengontrol dan memantau penyemprotan secara jarak jauh melalui
aplikasi atau perangkat digital, menyesuaikan jadwal penyemprotan dengan
kondisi lingkungan, serta memastikan efisiensi penggunaan pestisida alami yang
ramah lingkungan. Inovasi ini diharapkan dapat membantu petani mengurangi
ketergantungan pada pestisida kimia, meningkatkan hasil panen, serta menjaga
keberlanjutan ekosistem pertanian.
Gambar
2. Mekanisme Kerja NICRASIN.
Cara
kerja alat Penyemprot Pestisida Ekstrak Buah Sirih (Piper betle) pada
perkebunan kangkung dan bayam berbasis IoT dimulai dari sistem kontrol yang
terhubung dengan perangkat timer dan motor servo. Timer berfungsi
mengaktifkan sistem penyemprotan secara otomatis sesuai jadwal yang telah
ditetapkan, yaitu dua kali dalam seminggu. Ketika timer aktif, pompa air akan
menyala dan memompa ekstrak buah sirih dari wadah penyimpanan ke sprayer.
Selanjutnya, motor servo akan mengatur arah nozzle sprayer secara otomatis agar
penyemprotan dapat merata ke seluruh tanaman kangkung dan bayam. Sprayer
kemudian menyemprotkan cairan pestisida alami dengan tekanan yang memadai untuk
melindungi tanaman dari hama secara efektif. Seluruh proses ini dapat dipantau
dan dikendalikan secara jarak jauh melalui aplikasi berbasis IoT, memungkinkan
petani untuk mengelola penyemprotan dengan lebih efisien dan responsif.
Metode
Pembuatan Pestisida Organik
1. Ekstraksi
Buah Sirih
Buah
sirih diblender halus, lalu direbus dalam 500 ml air selama 15–20 menit.
Setelah itu, rebusan didinginkan, disaring, dan cairan yang dihasilkan disimpan
sebagai Ekstrak A.
2. Ekstraksi
Pelarut Organik
Ampas
hasil ekstraksi, direndam dalam 250 ml cuka apel 5 % selama 3–5 hari.
3. Kombinasi
Ekstrak & Fermentasi Opsional
Kedua
ekstrak kemudian dicampur: 300 ml Ekstrak A dan 100 ml Ekstrak B.
4. Aplikasi
& Dosis
Larutan
konsentrat diencerkan dengan rasio 1:5 (1 bagian ekstrak : 5 bagian air) untuk
tanaman. Penyemprotan dilakukan 2–3 kali per minggu, idealnya pada pagi atau
sore hari.
5. Penyimpanan
Ekstrak A dapat disimpan dalam jangka waktu 2–3 bulan, sedangkan ekstrak B 1
bulan.
Mekanisme
Kimia Ekstrak Buah Sirih Mengatasi Hama
Ekstrak
buah sirih mengandung beragam senyawa fitokimia yang mampu bekerja secara kimia
untuk membunuh atau menghambat hama. Mekanisme utama senyawa ini melibatkan
gangguan pada sistem saraf, pencernaan, hingga metabolisme sel serangga.
Senyawa alkaloid dan tanin, dapat menghambat metabolisme sel serta mengacaukan
fungsi saraf sehingga serangga mengalami kelumpuhan dan akhirnya mati. Tannin
juga bertindak sebagai racun kontak yang langsung merusak fisiologi
hama (Wahyuni & Nugrahani, 2021). Senyawa flavonoid dan saponin
merusak membran sel serta sistem pencernaan, menyebabkan hama kehilangan
kemampuan makan hingga mati kelaparan. Senyawa minyak atsiri seperti eugenol
dan kavikol mampu menembus kutikula serangga, mengganggu sistem pernapasan
serta saraf, sehingga tubuh hama menjadi kaku, energinya menurun drastis, dan
berujung pada kematian (Buulolo, 2023). Efek dari aplikasi ekstrak sirih
dapat terlihat pada larva maupun serangga dewasa, yang menunjukkan perubahan
perilaku seperti menghindari makanan, perubahan warna tubuh, kelumpuhan, hingga
kematian dalam kurun waktu relatif singkat, yakni 1–24 jam setelah
perlakuan (Syahputra & Ginting, 2024). Ekstrak sirih juga berperan
sebagai repelen yang menolak kehadiran hama serta sebagai oviposida yang mampu
menghambat penetasan telur serangga (Saraswati, Herdiannanta, &
Soesilohadi, 2021). Dengan demikian, ekstrak sirih bekerja melalui mekanisme
ganda, baik membunuh maupun mencegah siklus reproduksi hama, sehingga potensial
digunakan sebagai pestisida nabati yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Implementasi
Pentahelix Inovasi Nispray
Implementasi
Pentahelix digunakan untuk menciptakan sinergi antar stakeholder agar inovasi
pertanian dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan. Indikator yang
dilihat dalam analisis penta helix yakni pelibatan lima aktor atau yang sering
dikenal dengan istilah ABCGM (Academic, Business, Community, Government,
Media) (Rizqy, Anthera, & Elfian, 2023). Akademisi melakukan riset,
uji coba, dan validasi teknologi; pelaku bisnis bertugas memproduksi,
memasarkan, serta menyediakan layanan pendukung; masyarakat khususnya petani
menjadi pengguna sekaligus pemberi umpan balik; pemerintah menyediakan
regulasi, insentif, dan pengawasan; sementara media menyebarkan informasi dan
meningkatkan kesadaran publik. Kolaborasi kelima aktor ini sangat penting untuk
memastikan teknologi dapat diterapkan secara efektif, berkelanjutan, dan
memberikan manfaat nyata bagi pertaniasn ramah lingkungan (Septadiani
& Pribad, 2022).
KESIMPULAN
Inovasi
Penyemprot Pestisida Ekstrak Buah Sirih (Piper betle) berbasis IoT pada
perkebunan kangkung dan bayam dirancang untuk meningkatkan efisiensi
pengendalian hama secara alami melalui integrasi sprayer otomatis, timer, motor
servo, dan pompa air yang dapat dipantau jarak jauh. Pestisida dibuat melalui
proses ekstraksi buah sirih dan pelarut organik, menghasilkan senyawa fitokimia
seperti alkaloid, tanin, flavonoid, saponin, serta minyak atsiri yang efektif
melumpuhkan saraf, merusak sistem pencernaan, hingga mengganggu metabolisme
hama, sekaligus berperan sebagai repelen dan oviposida. Penggunaan pestisida
nabati ini tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga berkelanjutan, mendukung
pertanian bebas pestisida kimia. Implementasi inovasi ini diperkuat dengan
pendekatan Pentahelix yang melibatkan akademisi, bisnis, masyarakat,
pemerintah, dan media, sehingga teknologi dapat diadopsi secara luas,
berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi ketahanan pangan serta
ekosistem pertanian.
REFERENSI
Astuti,
W., & Widyastuti, C. R. (2016). PESTISIDA ORGANIK RAMAH LINGKUNGAN PEMBASMI
HAMA TANAMAN SAYUR. Rekayasa, 115-120.
Ahmad,
M. (2024). Pesticides impacts on human health and the environment with their
mechanisms of action and possible countermeasures. Heliyon, Vol 10,
DOI: https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e29128.
Ath
Thooriq, M., & Sujatmika, A. (2023). Rancang Bangun Alat Penyiraman Dan
Pembasmi Hama Otomatis Pada Tanaman Bayam Dengan Monitoring Berbasis
Website. Jurnal Sains Dan Teknologi (JSIT), 178.
Badan
Pangan Nasional. (2023, September 14). NFA Ajak Generasi Muda untuk
Konsumsi Sayur dan Buah. Retrieved from badanpangan.go.id:
http://badanpangan.go.id/blog/post/nfa-ajak-generasi-muda-untuk-konsumsi-sayur-dan-buah
Bazargani,
K., & Deemyad, T. (2024). Automation’s Impact on Agriculture:
Opportunities, Challenges, and Economic Effects. Robotics, ,
Vol 13(2), 33. DOI: https://doi.org/10.3390/robotics13020033.
Buulolo,
D. (2023). PENGARUH EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle L) TERHADAP MORTALITAS
WALANG SANGIT. TUNAS : Jurnal Pendidikan Biologi, Vol 4(1), 50 -
60. DOI: https://doi.org/10.57094/tunas.v4i1.865.
DKPP
Kabupaten Ngawi. (2022, November 28). Ulat Grayak pada Tanaman Jagung.
Retrieved from pertanian.ngawikab.go.id:
https://pertanian.ngawikab.go.id/tag/ulat-grayak/
Hamka,
A. (2021). Antibacterial activity of betel (Piper betle L.) fruit against
Pseudomonas aeruginosa. Acta Biochimica Indonesiana, DOI:
https://doi.org/10.32889/actabioina.10.
infamid.
(2024). jangan dibuang!! pestida alami dari kunyit . surabaya, jawa timur ,
indonesia .
Krisdayanti
, M. (2023). PEMANFAATAN CANGKANG TELUR SEBAGAI PUPUK ORGANIK PADA TANAMAN
KANGKUNG DARAT DIDESA NANOWA. Jurnal Sapta Agrica, 13.
Kumah,
J. (2025). The Impact of High Urban Temperatures on Pesticide Residues
Accumulation in Vegetables Grown in the Greater Accra Metropolitan Area of
Ghana. Journal of Xenobiotics, Vol 15(4), pp; 103. DOI:
https://doi.org/10.3390/jox15040103.
Rahmadhani,
S., & Supriadi. (2022). Pengembangan Buku Elektronik (E-Book) sebagai Media
Pembelajaran Ekstrakurikuler Wajib Pramuka. Indonesian Journal of
Learning and Technological Innovation, 88-89.
Rizqy,
F., Anthera, D., & Elfian, I. (2023). Implementasi Model Penta Helix dalam
Perencanaan Program CSR Peningkatan Hasil Tangkap Ikan Berbasis
Teknologi. Jurnal Ilmu Administrasi Publik.
Rustam,
R., Putra, A., & Yudha, P. (2023). Effectivity of organic extract of forest
betel fruit (Piper aduncum L.) of Riau to fall armyworm (Spodoptera frugiperda
JE Smith) in laboratory. IOP Conference Series: Earth and Environmental
Science, doi:10.1088/1755-1315/1160/1/012038.
Saraswati,
F., Herdiannanta, A., & Soesilohadi, R. (2021). Efficacy of Red Betel
Leaf’s (Piper crocatum) Chloroform Extract as Repellent Against Rice Bugs
Leptocorisa acuta Thunberg, 1783 (Hemiptera: Alydidae). IOP Conference
Series: Earth and Environmental Science, (pp. DOI
10.1088/1755-1315/715/1/012027).
Septadiani,
W., & Pribad, I. (2022). PERAN MODEL PENTAHELIX DALAM PENGEMBANGAN
PARIWISATA DI KAWASAN EKONOMI KHUSUS MANDALIKA. Prosiding Seminar
Intelektual Muda.
Solikha,
M., & Wardiny, T. (2025). Applying Noni Leaf Extract to Spinach Plants as
An Armyworm Control Method. Proceeding International Seminar of Science
and Technology (pp. Vol 4, DOI:
https://doi.org/10.33830/isst.v4i1.5237). Tangerang: Universitas Terbuka.
Sugiyono.
(2021). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Syahputra,
B., & Ginting, T. (2024). The Effect of Soursop and Betel Leaf Extracts as
Organic Pesticides in Pest Control of Spodoptera exigua (Lepidoptera:
Noctuidiae) on Onion (Alium ascalonicum L.) Cultivation. Jurnal
Pembelajaran Dan Biologi Nukleus, Vol 10 (1): 254-265, DOI:
https://doi.org/10.36987/jpbn.v10i1.5393.
Wahyuni,
E., & Nugrahani, R. (2021). Potensi Eksudat Daun Sirih Merah (Piper ornatum
L.) sebagai Insektisida Herbal terhadap Mortalitas Semut Hitam. Hydrogen:
Jurnal Kependidikan Kimia, Vol. 8 , No. 2, DOI:
https://doi.org/10.33394/hjkk.v9i2.4409.
Zhou,
W., Li, M., & Achal, V. (2024). A comprehensive review on environmental and
human health impacts of chemical pesticide usage. Emerging Contaminants,
Volume 11, Issue 1, DOI: https://doi.org/10.1016/j.emcon.2024.100410.
Komentar
Posting Komentar